Pembelajaran Mendalam Bantu Guru Ubah Kesulitan Menulis Menjadi Pengalaman Belajar Menyenangkan

Redaksi | News
oleh

Kediri.kliksurabaya.co.id – Bedah buku ‘Menulis Tanpa Menangis’ yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kemendikdasmen menjadi ruang bagi guru untuk tidak hanya membaca, tetapi juga berbagi pengalaman dan menemukan strategi yang dapat diterapkan di kelas. Berbagai pengalaman guru menunjukkan bahwa kesulitan membaca dan menulis pada peserta didik dapat diatasi melalui penyesuaian sederhana yang berangkat dari kebutuhan anak. Praktik tersebut sejalan dengan arah Pembelajaran Mendalam yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Bagi murid, menulis bukan hanya menghasilkan rangkaian huruf di atas kertas. Di dalamnya terdapat proses memahami, berkonsentrasi, mengoordinasikan gerak, serta membangun kepercayaan diri untuk belajar. Oleh karena itu, penguatan kemampuan membaca dan menulis membutuhkan pembelajaran yang memahami kondisi dan kebutuhan setiap anak.

Pengalaman tersebut dipaparkan oleh Redha, guru kelas III sekolah dasar negeri di Depok. Setelah mempelajari ‘Menulis Tanpa Menangis’, ia mulai melihat kesulitan menulis dengan cara berbeda. Ia tidak hanya meminta anak lebih rajin atau menyemangati mereka, tetapi mencari penyebab kesulitan dan menyesuaikan pembelajaran.

 

Redha mengungkapkan beberapa contoh kasus yang dimiliki oleh muridnya salah satunya Lutfy, yang membutuhkan waktu lama untuk menulis dan kesulitan memberikan jarak antarkata. Ia ditempatkan di depan kelas, materi yang harus disalin diletakkan lebih dekat, dan diberikan salinan soal agar tidak terus berpindah pandangan antara papan tulis dan buku. Stik es krim atau ruas jari digunakan sebagai penanda jarak tulisan, sementara waktu pengerjaan disesuaikan dengan kebutuhannya.

“Perubahan pun terlihat, Lutfy yang sebelumnya dapat menangis hingga tiga kali sehari karena tugas menulis untuk tiga mata pelajaran, kini tidak lagi menangis ketika menulis. Ia mampu menyelesaikan setidaknya setengah catatan setiap mata pelajaran, meski sebagian dilanjutkan di rumah,” ungkapnya pada kegiatan Bedah Buku di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta (20/8).

Selain itu pada Una, Redha menemukan bahwa keluhan cepat lelah saat menulis berkaitan dengan tekanan pensil yang terlalu kuat hingga tulisan menembus beberapa halaman. “Una kemudian ditempatkan di depan kelas dan pensilnya diperbesar menggunakan kain perca atau pencil grip. Dalam satu bulan, Una mampu menyelesaikan tugas menulisnya, sementara tulisan yang sebelumnya menembus hingga enam halaman berkurang menjadi sekitar tiga halaman,” jelasnya.

Praktik tersebut memperlihatkan bahwa penguatan membaca dan menulis tidak selalu harus dimulai dengan menambah latihan. Guru terlebih dahulu memahami kondisi peserta didik, kemudian merancang pengalaman belajar agar anak dapat memahami, mengaplikasi, dan merefleksi sesuai tahap perkembangannya. Ketiga pengalaman belajar tersebut merupakan bagian dari kerangka Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen.

Bedah buku ini mendapat respons yang baik dari orang tua dan guru berbagai jenjang yang hadid. Salah satunya Wahyu Rinaningsih, guru kelas di SLB Negeri 10 Jakarta, mengatakan ‘Menulis Tanpa Menangis’ sesuai dengan kebutuhan peserta didik kelas I dan II yang baru mulai belajar menulis.

 

“Saya bersyukur banget karena kebetulan saya selalu diberi tugas untuk mengajar kelas 1, kelas 2. Jadi anak-anak yang baru mulai sekolah dan saya itu sering kali ada kesulitan tentang menulis. Jadi ini sangat relate dengan kebutuhan saya,” ungkapnya.

Wahyu menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku juga memperkaya praktik guru karena menghadirkan pengalaman dan strategi yang sebelumnya belum pernah diterapkannya. Hal senada disampaikan Nia, guru SD Negeri Katulampa 5, Bogor, menilai buku tersebut sangat relevan dengan kebutuhan guru SD dan berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan-rekan guru.

 

“Buku ini sangat menarik, ini kali kedua saya ikut bedah buku ini. Apalagi relate banget dengan saya guru SD, ini butuh banget. Saya akan sharing sama teman-teman saya,” tuturnya.

Nia juga melihat buku tersebut memberikan strategi untuk menghadapi beragam persoalan menulis, termasuk anak yang enggan menulis maupun yang mengalami kesulitan tertentu. Pada akhirnya, penguatan literasi bukan semata tentang seberapa banyak anak menulis, tetapi bagaimana mereka mengalami proses belajar. Ketika guru memahami kesulitan anak dan berani menyesuaikan pembelajaran, kegiatan membaca dan menulis yang sebelumnya menjadi sumber kelelahan dapat berubah menjadi pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.***

No More Posts Available.

No more pages to load.